Yah bisa jadi ini artikel yang unik mengapa? Karena kita tahu banyak penduduk Indonesia terutama pria nya adalah perokok aktif. Perokok memang tidak mengenal status sosial baik kalangan eksekutif sampai ke kalangan pengangguran sekalipun tidak lepas dari yang namanya rokok.
Ternyata banyak orang yang rela menghabiskan sebagian besar penghasilannya untuk menghisap rokok (istilahnya bakar-bakar duit lah) yang dapat dianggap merupakan kenikmatan sesaat.
"Tiap hari saya menghabiskan tiga bungkus rokok. Penghasilan saya seharinya itu sekitar Rp 50.000. Setengah penghasilan itu buat rokok," kata Subardi, seorang supir Kopaja berbagi pengalamannya.Ia mengaku, penghasilannya saat ini sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, untuk melepaskan diri dari rokok berat karena sudah dilakukannya sejak 30 tahun lalu.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI ditemukan fakta bahwa keluarga miskin memang menghabiskan sebagian besar uang mereka untuk memenuhi kebutuhan akan tembakau dan sirih
"Jika keluarga miskin dibandingkan dengan keluarga kaya, akan terlihat pengeluaran rumah tangga perokok termiskin terhadap tembakau dan sirih lebih tinggi yaitu 9,3 persen dan keluarga kaya hanya mengeluarkan 6,8 persen," papar Ayke Soraya Kiting, peneliti dari Lembaga Demografi FEUI dalam jumpa pers yang membahas beban konsumsi rokok bagi kelurga termiskin di Jakarta, Kamis (26/2).
Lebih lanjut Berdasarkan paparan para peneliti dari UI, Kamis (26/2), keluarga miskin yang merokok menghabiskan dana sebesar Rp 117.624 setiap bulan hanya untuk konsumsi rokok.
"Itu menunjukkan konsumsi rokok pada keluarga miskin sangat besar," terang Abdillah Ahsan, peneliti dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI, di Jakarta, Kamis (26/2).
Di kesempatan yang sama, Ayke Soraya Kiting, peneliti dari lembaga demografi FEUI, memaparkan, pada tahun 2005 persentase pengeluaran rokok pada keluarga miskin adalah 12,4 persen, lalu pada tahun 2006 sebesar 11, 9 persen. Dari data itu dapat disimpulkan untuk rumah tangga miskin turun 0,5 persen.
Selain itu, dari hasil penelitian yang dilakukan lembaga Demografi FEUI menemukan pada tahun 2004 masyarakat desa mengonsumsi 11 batang dalam sehari. Lalu pada tahun 2007 jumlah tersebut naik, masyarakat desa mengonsumsi rokok sebanyak 12 batang.
Konsumsi rokok lebih besar daripada kebutuhan lain.
Rata-rata pengeluaran untuk rokok pada keluarga miskin adalah 17 kali lebih besar dari pengeluaran untuk daging, 15 kali lebih besar dari pengeluaran untuk biaya pengobatan, 9 kali lebih besar dari biaya pendidikan, 5 kali lebih besar dari pengeluaran susu dan telur, dan 2 kali lebih besar dari pengeluaran untuk ikan.
Pada kesempatan yang sama, Abdillah Ahsan yang juga peneliti dari Lembaga Demografi FEUI mengatakan, salah satu yang menjadi alasan bagi keluarga miskin tetap merokok adalah mudahnya rokok didapat.
Rokok itu barang yang legal, dapat dibeli di mana saja.Padahal, telah menjadi pengetahuan umum bahwa merokok merusak kesehatan. Jika kesehatan terganggu, produktivitas pun akan turun. Keluarga miskin harus menanggung akibat yang lebih besar jika ada anggota keluarga sakit karena rokok."Itu jelas akan semakin memperparah keadaan ekonomi keluarga miskin," kata Abdillah.
Jelas bahwa keluarga miskin harus berpikir dua kali untuk tetap merokok karena keputusan untuk bertahan merokok membuat keluarga tetap miskin atau bahkan makin miskin. Bisa saja kita menganggap orang miskin memang dilarang merokok.
sumber : kompas
Ternyata banyak orang yang rela menghabiskan sebagian besar penghasilannya untuk menghisap rokok (istilahnya bakar-bakar duit lah) yang dapat dianggap merupakan kenikmatan sesaat.
"Tiap hari saya menghabiskan tiga bungkus rokok. Penghasilan saya seharinya itu sekitar Rp 50.000. Setengah penghasilan itu buat rokok," kata Subardi, seorang supir Kopaja berbagi pengalamannya.Ia mengaku, penghasilannya saat ini sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, untuk melepaskan diri dari rokok berat karena sudah dilakukannya sejak 30 tahun lalu.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI ditemukan fakta bahwa keluarga miskin memang menghabiskan sebagian besar uang mereka untuk memenuhi kebutuhan akan tembakau dan sirih
"Jika keluarga miskin dibandingkan dengan keluarga kaya, akan terlihat pengeluaran rumah tangga perokok termiskin terhadap tembakau dan sirih lebih tinggi yaitu 9,3 persen dan keluarga kaya hanya mengeluarkan 6,8 persen," papar Ayke Soraya Kiting, peneliti dari Lembaga Demografi FEUI dalam jumpa pers yang membahas beban konsumsi rokok bagi kelurga termiskin di Jakarta, Kamis (26/2).
Lebih lanjut Berdasarkan paparan para peneliti dari UI, Kamis (26/2), keluarga miskin yang merokok menghabiskan dana sebesar Rp 117.624 setiap bulan hanya untuk konsumsi rokok.
"Itu menunjukkan konsumsi rokok pada keluarga miskin sangat besar," terang Abdillah Ahsan, peneliti dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI, di Jakarta, Kamis (26/2).
Di kesempatan yang sama, Ayke Soraya Kiting, peneliti dari lembaga demografi FEUI, memaparkan, pada tahun 2005 persentase pengeluaran rokok pada keluarga miskin adalah 12,4 persen, lalu pada tahun 2006 sebesar 11, 9 persen. Dari data itu dapat disimpulkan untuk rumah tangga miskin turun 0,5 persen.
Selain itu, dari hasil penelitian yang dilakukan lembaga Demografi FEUI menemukan pada tahun 2004 masyarakat desa mengonsumsi 11 batang dalam sehari. Lalu pada tahun 2007 jumlah tersebut naik, masyarakat desa mengonsumsi rokok sebanyak 12 batang.
Konsumsi rokok lebih besar daripada kebutuhan lain.
Rata-rata pengeluaran untuk rokok pada keluarga miskin adalah 17 kali lebih besar dari pengeluaran untuk daging, 15 kali lebih besar dari pengeluaran untuk biaya pengobatan, 9 kali lebih besar dari biaya pendidikan, 5 kali lebih besar dari pengeluaran susu dan telur, dan 2 kali lebih besar dari pengeluaran untuk ikan.
Pada kesempatan yang sama, Abdillah Ahsan yang juga peneliti dari Lembaga Demografi FEUI mengatakan, salah satu yang menjadi alasan bagi keluarga miskin tetap merokok adalah mudahnya rokok didapat.
Rokok itu barang yang legal, dapat dibeli di mana saja.Padahal, telah menjadi pengetahuan umum bahwa merokok merusak kesehatan. Jika kesehatan terganggu, produktivitas pun akan turun. Keluarga miskin harus menanggung akibat yang lebih besar jika ada anggota keluarga sakit karena rokok."Itu jelas akan semakin memperparah keadaan ekonomi keluarga miskin," kata Abdillah.
Jelas bahwa keluarga miskin harus berpikir dua kali untuk tetap merokok karena keputusan untuk bertahan merokok membuat keluarga tetap miskin atau bahkan makin miskin. Bisa saja kita menganggap orang miskin memang dilarang merokok.
sumber : kompas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar