Senin, 16 Februari 2009

KAPAN YA MANUSIA BAHAGIA?

KAPAN YA MANUSIA BAHAGIA?

Saya kadang berpikir kapan ya kita mencapai kebahagiaan? Menurut orang orang yang pernah saya temui orang dikatakan bahagia bila semua kebutuhan hidupnya terpenuhi , memiliki karir yang bagus , yah intinya ya semua yang bagus bagus lah tapi apakah benar kebahagiaan itu diukur dari materi atau kebahagiaan itu hanya semu semata. Menurut seorang dosen manusia dikatakan bahagia BILA manusia tersebut sudah tidak memerlukan apa apa dalam hidupnya. Sejauh ini, saya hanya menemukan satu cara untuk kebahagiaan YAITU dengan memiliki semuanya dan menerima dengan senang hati jika kita memiliki segalanya. Tetapi orang yang senang ketika ia tidak memerlukan apa-apa dalam hidupnya berarti ia telah memiliki segalanya.

Namun, masih ada 3 cara menafsirkan "memiliki segalanya":

  • Seseorang sanggup memiliki setiap atom entitas yang ada di alam semesta ini karena dia mampu untuk itu.
  • Seseorang yang berpikir telah memiliki segalanya, beranggapan dengan memiliki segalanya maka dia disebut bahagia.
  • Seseorang yang memikirkan apa yang dipikirkan adalah segalanya, kemudian seseorang tersebut sanggup memenuhi apa yang dipikirkannya maka ia disebut bahagia.


Poin 2 dan 3 menyebut kata "berpikir". Pikiran seseorang itu dilihat dari cara dia berpikir terhadap sesuatu.
Dengan kata lain, Seseorang itu bahagia jika dia berpikir dia bahagia atau dia berpikir dia memiliki segalanya atau dia berpikir dirinya adalah segalanya.

Jadi sebenarnya kebahagiaan itu hanya dibatasi oleh pemikiran pribadi ketika seseorang merasa bahagia, apa pun pendapat orang, dia tetap bahagia.

Kita ambil contoh Seorang kuli panggul yang setiap hari harus mengangkat barang-barang dengan beban yang sangat berat di bawah terik matahari, mungkin dianggap tidak bahagia oleh masyarakat karena kemiskinannya. Tapi ketika dia pikir dia bahagia karena dia pikir dia sudah mempunyai segala yang dia butuhkan , dia bahagia.

Seorang peneliti yang meninggal sendirian di labnya dan baru ditemukan 3 hari sesudahnya, mungkin dianggap tidak bahagia oleh masyarakat karena kesendiriannya. Tapi saat dia hidup, ketika dia pikir dia bahagia karena dia sedang melakukan apa yang dia anggap segalanya, dia bahagia.

Seorang public figure yang sukses dalam ukuran masyarakat yang tiap hari hidup di tengah kemewahan, mungkin dianggap bahagia oleh masyarakat karena kesuksesannya. Tapi ketika dia merasa tidak bahagia dan masih merasa dia tetap kekurangan, maka dia tidak bahagia.

Seorang karyawan yang setiap hari bekerja keras masuk pagi pagi sekali dan pulang larut malam, mungkin dianggap bahagia oleh masyarakat karena keuletannya. Tapi ketika dia pikir dia tidak bahagia karena tidak memiliki apa yang dia pikir adalah segalanya, maka dia tidak bahagia.

Manusia adalah apa yang dia pikirkan. Pemikiran adalah bukti eksistensi manusia ( Cogito ergo sum ) .

Menurut sang dosen LAGI ketika kita merasakan hidup makin menderita, maka kita makin mendekat pada penderitaan abadi. Sebaliknya, ketika kita merasakan hidup makin bahagia, maka kita makin mendekat pada kebahagiaan abadi.

Ibarat, ketika kita naik gunung, makin dekat ke puncak maka yang akan kita rasakan adalah dingin. Ketika kita mendekat kepada nyala api maka kita akan merasakan panas sebelum akhirnya terbakar saat sampai pada nyala api tersebut.

Di dalam kehidupan ini, menurut beliau, ada dua hal yang penting : 1) the purpose of life, 2) the necessity of life. “The necessity of life” adalah hal-hal penopang kehidupan sedangkan “the purpose of life” adalah tujuan akhir dari kehidupan kita. Kebahagiaan yang abadi akan dicapai ketika kita mengejar “the purpose of life“. Sebaliknya, ketika manusia memiliki “the necessity of life“, manusia hanya akan memiliki kebahagiaan semu dan sementara.

Banyak manusia tidak dapat membedakan antara “the purpose of life” dengan “the necessity of life“. Manusia memiliki kecenderungan untuk mengejar-ngejar dan menimbun “the necessity of life” sementara membiarkan “the purpose of life” terbengkalai. Menurut beliau, seharusnya “the necessity of life” lah yang dikorbankan untuk mencapai “the purpose of life”.

Semakin manusia mengorbankan “the purpose of life” maka manusia tidak akan pernah merasakan yang namanya kebahagiaan. Jika kita berada di jalan yang benar menuju “the purpose of life” maka kita akan semakin merasakan kebahagiaan dengan apa pun “the necessity of life” yang kita korbankan.

Meski demikian, “the road to the purpose of life” dan “the purpose of life” itu sendiri rasanya masih terlalu abstrak untuk digambarkan dalam dimensi yang dapat diproyeksikan oleh otak manusia.

Tapi sebagai manusia yang beragama kita yakin suatu saat nanti akan ada yang namanya sorga yang mengalir sungai sungai dibawahnya dimana disana kita dijanjikan kebahagiaan yang absolut yang tidak pernah ada habisnya.Mungkin dengan menjadi manusia yang berilmu dan relijius maka kita tetap berpegang teguh terhadap apa tujuan kita didunia ini. bila kita ingin menjawab kapan manusia bahagia terutama di kehidupan dunia ini maka yang dapat disimpulkan yaitu kita harus mampu mengelola pikiran kita. Bagaimana? Sederhana saja, jika Anda berpikir Anda bahagia, maka anda adalah orang yang bahagia.

sumber : blog nya petra


Tidak ada komentar:

Posting Komentar